JAKARTA, LENSABANTEN.CO.ID – Fenomena menarik datang dari band psychobilly asal Temanggung, Prison Of Blues. Meski berprestasi di luar negeri, band ini mengaku justru lebih dihargai di Eropa ketimbang di tanah air.
“Lucunya, banyak yang mengira kami band besar di Indonesia. Padahal genrenya minoritas banget, hampir nggak ada yang main psychobilly di sini,” ujar Endy Barock, drummer yang baru bergabung dalam tur ke-5 mereka di Eropa.
POB memang lebih dikenal di luar negeri berkat keikutsertaannya dalam festival-festival besar seperti Psychobilly Meeting (2016–2024) dan Psychobilly Earthquake 2025 di Jerman. Ribuan penggemar datang dari berbagai negara, bahkan ada yang rela terbang dari California, Spanyol, hingga Italia hanya untuk menonton.
“Kami kaget juga, ada fans yang hafal semua lagu kami. Di Indonesia mungkin cuma komunitas kecil yang tahu,” ujar Dellu Uyee, kolaborator vokal dalam tur terbaru ini.
Mereka menilai apresiasi yang tinggi di Eropa tak lepas dari sistem industri musik yang tertib dan menghargai hak cipta. “Di sana semua diatur oleh CMO seperti GEMA, jadi musisi benar-benar merasa dihargai,” jelas Dhana dan Topan.

Namun bagi POB, pengakuan internasional bukan tujuan utama. “Kami tetap bangga jadi band Indonesia. Justru kami ingin orang tahu bahwa musik ekstrem juga bisa membawa nama Indonesia ke dunia,” kata Bayu Randu.
Dengan total 50 gigs lintas benua, POB membuktikan bahwa konsistensi dan semangat eksplorasi bisa menembus batas geografis dan genre.
“Psychobilly mungkin bukan genre besar, tapi semangatnya adalah kebebasan. Dan kami membuktikan bahwa kebebasan itu bisa membawa kami sejauh ini,” tutup Bowo, vokalis sekaligus pendiri band. (san/*) #foto dok. prison of blues









