TANGERANG, LENSABANTEN.CO.ID — Sebagai seorang ibu, Khaerul Nisa (23) tidak pernah membayangkan putranya, Ashraf yang baru berusia 1 tahun 11 bulan, harus menjalani perawatan di rumah sakit. Ia juga tidak menyangka bahwa perawatan tersebut harus berlangsung selama hampir dua belas hari akibat campak.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu momen yang sangat menguras emosi baginya, terlebih ketika melihat anak yang biasanya aktif dan ceria tiba-tiba mengalami demam tinggi yang tidak kunjung membaik. Awalnya, Nisa mengira kondisi tersebut hanya demam biasa yang dipicu oleh perubahan cuaca yang belakangan sering terjadi.
“Awalnya saya mengira Ashraf hanya demam biasa karena cuaca yang berubah-ubah. Saya masih memantau kondisinya di rumah sambil berharap demamnya segera turun. Namun setelah dua hari, suhu tubuhnya tetap tinggi dan justru terlihat semakin lemas serta kurang aktif dari biasanya. Karena kondisi tersebut tidak kunjung membaik, kami akhirnya segera membawa Ashraf ke Rumah Sakit Hermina Tangerang untuk penanganan yang lebih intensif,” terang Nisa.
Setibanya di Instalasi Gawat Darurat (IGD), Ashraf langsung mendapatkan penanganan dari tenaga kesehatan. Nisa mengungkapkan bahwa pelayanan yang cepat membuat dirinya sedikit lebih tenang di tengah kepanikan yang ia rasakan. Setelah dilakukan pemeriksaan awal, dokter menyarankan agar Ashraf menjalani rawat inap untuk pemantauan lebih lanjut.
Berbagai pemeriksaan penunjang, termasuk pemeriksaan laboratorium, dilakukan untuk mengetahui penyebab pasti demam yang dialami sang buah hati. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa Ashraf mengalami campak.
“Setelah hasil laboratorium keluar, ternyata Ashraf didiagnosis campak. Saya cukup kaget karena bercak khas campak belum terlihat saat itu, sehingga sebelumnya kami tidak menyangka sama sekali. Bercak campaknya baru terlihat setelah sekitar tiga hari dirawat di rumah sakit dan mulai menyebar di beberapa bagian tubuhnya. Meski begitu, saya bersyukur karena penyakit yang dialami anak saya dapat segera diketahui sehingga penanganan yang tepat bisa diberikan sejak awal,” kata Nisa, Senin 25 Mei 2026.
Selama menjalani perawatan, Ashraf harus dirawat hampir dua belas hari hingga kondisinya benar-benar membaik. Sebagai balita yang aktif, Ashraf tetap ingin bergerak dan bermain meskipun sedang sakit.
Nisa mengatakan bahwa kondisi tersebut beberapa kali membuat infus yang terpasang harus diganti. Sebagai ibu, ia mengaku sedih melihat putranya harus menjalani tindakan medis berulang kali. Namun, ia juga merasa terbantu karena seluruh tenaga kesehatan yang menangani Ashraf selalu menunjukkan kesabaran dan ketelatenan dalam memberikan pelayanan.
“Anak saya memang sangat aktif. Beberapa kali infusnya harus diganti, tetapi dokter dan perawat selalu sabar menangani Ashraf dan tetap berhati-hati dalam setiap tindakan. Mereka juga sangat ramah saat menjelaskan perkembangan kondisi anak saya. Perhatian yang diberikan tenaga kesehatan tidak hanya membantu proses penyembuhan Ashraf, tetapi juga memberikan ketenangan bagi saya dan keluarga. Setiap pertanyaan dan kekhawatiran kami selalu direspons dengan baik oleh dokter dan perawat yang bertugas,” tuturnya.
Di tengah situasi penuh kecemasan itu, Nisa merasakan manfaat besar Program JKN. Menurutnya, hal terpenting bagi orang tua saat anak sakit adalah memastikan sang buah hati memperoleh pelayanan kesehatan terbaik tanpa terkendala biaya.
Dengan kepesertaan JKN yang aktif, ia dapat lebih tenang dan fokus mendampingi proses penyembuhan Ashraf di rumah sakit tanpa terus memikirkan beban biaya perawatan yang harus ditanggung.
“Alhamdulillah selama hampir dua minggu Ashraf dirawat, kami tidak dikenakan biaya sama sekali. Saya dan keluarga bisa fokus mendampingi, menjaga, dan mendoakan kesembuhannya tanpa harus memikirkan biaya rumah sakit yang tentu tidak sedikit. Saya benar-benar merasakan bahwa Program JKN sangat membantu kami di saat kondisi darurat seperti ini. Program JKN memberikan jaminan kesehatan yang membuat kami lebih tenang,” ungkap Nisa.
Kini Ashraf telah kembali sehat dan beraktivitas seperti sedia kala. Nisa menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada Program JKN yang telah membantu keluarganya melewati masa perawatan sang anak tanpa kendala biaya.
Pengalamannya tersebut membuat Nisa semakin yakin bahwa kepesertaan JKN merupakan hal yang harus dimiliki setiap keluarga. Nisa juga menegaskan pentingnya menjaga status kepesertaan tetap aktif serta berharap JKN terus memberikan perlindungan kesehatan bagi masyarakat Indonesia.










