JAKARTA, LENSABANTEN.CO.ID — Tekanan terhadap keberlanjutan keuangan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) semakin nyata. Sepanjang tahun 2025, BPJS Kesehatan mencatat total pengeluaran untuk biaya pelayanan kesehatan mencapai Rp191,33 triliun, melonjak dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di angka Rp176,11 triliun.
Lonjakan beban klaim ini dipicu oleh tren inflasi medis yang terus membayangi sektor kesehatan nasional. Besarnya biaya tersebut didominasi oleh pembiayaan penyakit katastropik, dengan penyakit jantung mencatatkan pengeluaran terbesar senilai Rp17,3 triliun, disusul gagal ginjal sebesar Rp13,3 triliun, dan kanker sebesar Rp10,3 triliun.
Direktur Utama BPJS Kesehatan, Prihati Pujowaskito, mengakui bahwa rasio klaim yang kini berada di atas 100% menuntut perhatian serius.
Pihaknya mengharapkan adanya dukungan proaktif dari pemerintah terkait penyesuaian anggaran agar keberlangsungan layanan kesehatan bagi ratusan juta peserta JKN tetap terjaga di masa depan.
Kondisi ini menjadi sinyal penting bagi pengambil kebijakan untuk memitigasi dampak inflasi medis yang kian menggerus efisiensi dana jaminan sosial, terutama dengan beban kasus penyakit kritis yang terus menunjukkan tren peningkatan dari tahun ke tahun.








