TANGERANG, LENSABANTEN.CO.ID – Aksi pencurian sepeda motor kembali terjadi di wilayah Kota Tangerang. Kali ini menimpa Annisa Unafti (25), warga Gang Hj Tamsir, Pondok Bahar RT 05/01 Nomor 63, Kecamatan Karang Tengah, pada Rabu, 4 Februari 2026.
Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 15.00 WIB saat kondisi lingkungan sekitar rumah korban terbilang ramai. Ayah Annisa saat itu baru saja menjemput cucunya dari sekolah dan berniat mengantarkan sang cucu ke tempat les.
Menurut Annisa, ayahnya sempat memarkir motor di depan rumah seperti biasa. Namun karena keponakannya belum siap dan masih mencari buku, ayahnya masuk ke dalam rumah selama kurang lebih empat menit untuk memanggil sang cucu.
“Pintu pagar dan rumah dalam kondisi terbuka. Di sekitar rumah juga ada gudang yang sedang ada orang, serta ibu-ibu yang lagi mengobrol,” ujar Annisa kepada Lensa Banten pada Sabtu, 7 Februari 2026 saat menceritakan kronologi kejadian
Namun saat ayahnya kembali keluar rumah, motor yang terparkir di depan sudah tidak ada di tempat. Padahal, motor tersebut dalam kondisi terkunci setang, meski tidak menggunakan pengaman tambahan.
“Motornya dikunci setang, cuma memang nggak pakai kunci tambahan karena posisinya cuma masuk sebentar, bener-bener cepat,” jelasnya.
Annisa menyebut, berdasarkan keterangan warga sekitar, pelaku pencurian diduga beraksi secara berkelompok. Beberapa saksi mengaku melihat komplotan pelaku sempat melintas sebanyak dua kali sebelum akhirnya membawa kabur motor korban. Aksi tersebut juga terekam kamera CCTV di sekitar lokasi.
Di depan rumah korban sendiri terdapat penjual es kelapa yang sempat melihat kejadian. Namun saat itu, penjual tersebut mengira pelaku merupakan kenalan keluarga korban.
“Dia kira itu keluarga, karena logikanya kalau keluarga harusnya ayah saya nongol. Tapi dia juga lagi melayani pembeli, jadi nggak bisa disalahkan,” tuturnya.
Hingga kini, Annisa mengaku belum melaporkan kejadian tersebut ke pihak kepolisian. Ia menyampaikan kekecewaannya terhadap pengalaman sebelumnya saat mengurus laporan kehilangan.
“Jujur saya sudah malas. Pengalaman sebelumnya, tahun 2022 motor sepupu saya juga hilang. Nanya-nanya iya, tapi setelah itu nggak ada tindak lanjut. Rasanya cuma formalitas bikin surat laporan,” ungkapnya.
Ia juga menilai proses pelaporan kerap dibarengi dengan kesan dipersulit dan ditakut-takuti soal biaya. Hal tersebut membuatnya kehilangan kepercayaan dan memilih berharap kasus ini mendapat perhatian melalui jalur publik.
Meski demikian, Annisa tetap menyampaikan harapannya kepada aparat kepolisian agar lebih meningkatkan keamanan, khususnya di wilayah yang rawan pencurian.
“Cari uang itu susah, apalagi ayah saya sudah lansia dan saya punya bayi. Ini memang cuma kehilangan barang, tapi tolong keamanan warga ditingkatkan. Kalau malingnya ketemu, jangan lagi minta biaya ini itu,” pungkasnya.
Ia berharap kepolisian dapat menjalankan tugas dengan tulus dan sesuai dengan slogan sebagai pelindung serta pengayom masyarakat.









