Kehilangan Mestika dan Kehidupan Masa Kini

LENSABANTEN. CO. ID — Novel Kehilangan Mestika karya Hamidah bukan hanya bercerita tentang kehilangan, tetapi juga tentang bagaimana seseorang bertahan dalam hidup, menghadapi perubahan, dan belajar menjadi dewasa.

Novel ini lahir pada masa awal perkembangan sastra Indonesia modern dan diterbitkan oleh Balai Pustaka, pada masa itu karya sastra sering digunakan untuk menggambarkan kehidupan masyarakat sekaligus memberikan pelajaran moral.

Bacaan Lainnya

Karena itu, cerita dalam novel ini tidak hanya fokus pada hiburan, tetapi juga memperlihatkan nilai-nilai kehidupan, terutama tentang keluarga, pendidikan, dan perjuangan Perempuan.

Yang menarik, Hamidah sebagai penulis perempuan sudah berani menyampaikan pengalaman emosional dan pandangan hidup melalui tulisannya di tengah kondisi masyarakat yang masih sangat tradisional.

Hal itu membuat Kehilangan Mestika terasa berbeda dan punya nilai penting dalam sejarah sastra Indonesia.

Bahasa dalam novel ini memang terasa klasik karena menggunakan gaya Melayu lama. Kalimat-kalimatnya panjang dan penuh perasaan. Bagi pembaca sekarang mungkin terasa sedikit berat di awal, tetapi lama-kelamaan justru muncul kesan hangat dan puitis.

Cara penulis menggambarkan kesedihan, kerinduan, dan harapan terasa lembut, tidak berlebihan, tetapi tetap menyentuh. Bahasa seperti ini jarang ditemukan di novel modern yang biasanya lebih santai.

Isi ceritanya menggambarkan perjalanan hidup seseorang yang harus menghadapi kehilangan sejak usia muda.

Kehidupan tokoh dalam novel dipenuhi berbagai cobaan, mulai dari perpisahan dengan keluarga, perjuangan menempuh pendidikan, sampai menghadapi kenyataan hidup yang tidak selalu sesuai harapan.

Dari situ terlihat bahwa hidup pada masa itu juga penuh tekanan, terutama bagi perempuan yang harus mengikuti aturan keluarga dan adat.

Kalau dipikir-pikir, masalah dalam novel ini sebenarnya masih sangat relevan dengan kehidupan generasi sekarang.

Banyak anak muda hari ini juga mengalami kehilangan, entah kehilangan orang terdekat, kehilangan rasa percaya diri, bahkan kehilangan arah hidup. Bedanya, sekarang semua itu sering ditutupi dengan media sosial dan tuntutan untuk selalu terlihat bahagia.

Perjuangan tokoh dalam mencari pendidikan juga mirip dengan kondisi sekarang. Banyak anak muda rela merantau, hidup jauh dari keluarga, dan menghadapi tekanan demi masa depan yang dianggap lebih baik. Ada rasa lelah, kesepian, dan takut gagal yang diam-diam sama seperti yang dialami tokoh dalam novel ini.

Selain itu, novel ini juga mengingatkan bahwa menjadi dewasa ternyata berarti belajar menerima kenyataan hidup. Tidak semua hal bisa dipertahankan, dan tidak semua keinginan akan tercapai.

Kadang kehilangan justru menjadi titik seseorang memahami arti hidup dan menemukan kekuatan dalam dirinya sendiri. Walaupun termasuk novel lama, Kehilangan Mestika tetap menarik dibaca karena emosinya terasa manusiawi.

Novel ini membuktikan bahwa perasaan sedih, harapan, dan perjuangan manusia sebenarnya tidak banyak berubah dari zaman ke zaman. Yang berubah hanya cara manusia menjalani dan mengekspresikannya.

Ditulis oleh : Maulida Salma Rizqiyah

Pos terkait

Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari lensabanten.co.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.