Misteri Kematian Raymond: Hasil Otopsi Tegaskan Bukan Bunuh Diri, Polisi Diminta Usut Tuntas

Misteri Kematian Raymon: Hasil Otopsi Tegaskan Bukan Bunuh Diri, Polisi Diminta Usut Tuntas
Lim Tjun Kong (68) dan Doli Kartika Sari (54) memegang foto semasa hidup Raymon Wirya Arifin. Foto : Dony Ambarita/LENSABANTEN

KOTA TANGERANG, LENSABANTEN.CO.ID – Duka mendalam masih menyelimuti keluarga besar Raymond Wirya Arifin (19), salah satu mahasiswa Universitas Swasta di Kota Tangerang yang ditemukan meninggal dunia di Sungai Cisadane. Lebih dari sebulan sejak penemuan jasadnya, kasus ini belum menunjukkan titik terang.

Keluarga menilai proses penyelidikan berjalan lambat, sementara mereka terus dihantui tanda tanya besar, siapa pelaku di balik kematian Raymon.

Bacaan Lainnya

Raymond adalah anak bungsu dari empat bersaudara, putra dari pasangan Lim Tjun Kong (68) dan Doli Kartika Sari (54), yang tinggal di Kelurahan Neglasari, Kecamatan Neglasari, Kota Tangerang. Sehari-hari, Raymon dikenal sebagai pemuda yang rajin. Ia bekerja paruh waktu pada pagi hari sebelum melanjutkan aktivitas kuliah.

Pada Jumat, 18 Juli 2025 lalu, Raymond dilaporkan hilang setelah berangkat ke kampus. Esok harinya, keluarga menerima kabar yang menghancurkan hati, bahwa jasad Raymond ditemukan di bawah Jembatan Kaca Cisadane. Awalnya, masyarakat sekitar menduga Raymond mengalami kecelakaan tragis atau bahkan bunuh diri.

Namun, hasil otopsi rumah sakit justru mengungkap kejanggalan. Terdapat tanda-tanda penganiayaan yang mengarah pada dugaan pembunuhan.

Benny (65), paman korban, menceritakan kronologi singkat hilangnya sang keponakan. Menurutnya, hari itu Raymond sempat pulang ke rumah usai bekerja, kemudian bersiap berangkat kuliah. Ia menumpang ojek menuju kampus, dan sejak saat itu tak pernah kembali lagi.

“Biasanya Raymond dijemput orang tuanya pulang kerja. Hari itu pun masih sempat dijemput. Tapi ke kampus dia naik ojek sendiri. Setelah itu sudah tidak ada kabarnya. Besoknya pihak kampus memberi tahu bahwa Raymond tidak masuk kuliah. Akhirnya ditemukan sudah meninggal di Sungai Cisadane,” ungkapnya kepada Lensa Banten saat ditemui di rumahnya, pada Selasa, 18 Agustus 2025 malam.

Namun, yang membuat keluarga semakin kecewa adalah lambannya tindak lanjut dari kepolisian. Benny menuturkan, hingga kini pihak Polres Metro Tangerang Kota maupun Polsek Karawaci belum menunjukkan upaya penyelidikan yang berarti. Proses otopsi justru dapat dilakukan berkat bantuan relasi keluarga di tingkat Polda (Metro Jaya).

“Dari Polres atau Polsek belum ada respon. Hanya dari Polda yang membantu, termasuk hasil otopsi. Hasilnya jelas, terdapat unsur pembunuhan dan penganiayaan,” ujarnya menegaskan.

Hasil otopsi itulah yang menjadi dasar keluarga menolak anggapan bahwa Raymon mengakhiri hidupnya sendiri. Menurut Benny, kondisi jenazah yang penuh luka tidak mungkin disebabkan oleh bunuh diri.

“Jelas bukan bunuh diri. Hasil otopsi menyebut pembunuhan dan penganiayaan. Kakaknya juga melihat langsung kondisi tubuh Raymond. Dengan luka-luka seperti itu, mustahil bunuh diri,” ucapnya dengan nada tegas.

Di sisi lain, keluarga juga menaruh harapan besar kepada pihak kampus agar menunjukkan sikap empati. Mereka berharap universitas tempat Raymon menuntut ilmu tidak menutup mata terhadap tragedi yang menimpa mahasiswanya.

“Sebagai orang berpendidikan, seharusnya mereka bisa menempatkan diri. Bagaimana kalau kejadian ini menimpa keluarga mereka? Rasa simpati harusnya timbul dari hati, bukan karena diminta,” kata Benny.

Kini, lebih dari satu bulan setelah kejadian, keluarga Raymond masih terjebak dalam penantian panjang. Tidak ada perkembangan berarti dari penyelidikan. Sementara itu, pihak kepolisian setempat belum mengeluarkan keterangan resmi mengenai status kasus tersebut.

“Kami hanya ingin keadilan. Kepolisian yang paling berwenang. Jadi kami mohon benar-benar diperhatikan kasus ini. Karena kami tidak tahu hukum, yang kami tahu hanya polisi tempat kami meminta pertolongan,” pungkas Benny.

Di tengah rasa kehilangan yang belum pulih, kedua orang tua Raymond mencoba menyuarakan harapan mereka dengan cara sederhana namun penuh makna. Berdiri di halaman rumah di Neglasari, mereka memegang erat foto putra bungsu kesayangan. Dengan mata berkaca-kaca, mereka hanya mampu berkata lirih:

“Kami butuh keadilan.”

Seruan itu diucapkan dengan harapan dapat menggugah hati aparat penegak hukum agar segera bertindak. Bagi keluarga Raymond, keadilan bukan sekadar kata-kata, melainkan jalan untuk mengungkap kebenaran dan memberikan ketenangan atas kehilangan yang begitu besar.

Sampai berita ini diturunkan, pihak kepolisian belum memberikan keterangan resmi mengenai perkembangan kasus dugaan pembunuhan tersebut.

Keluarga Raymond menegaskan bahwa mereka tidak akan berhenti mencari kebenaran. Meski jalan panjang penuh ketidakpastian masih terbentang di depan mata, mereka percaya bahwa keadilan pada akhirnya harus ditegakkan. Harapan terbesar mereka hanyalah melihat kasus ini diusut tuntas, agar tidak ada lagi keluarga lain yang merasakan luka serupa.

Penulis : Dony Ambarita

Editor : Eky

Pos terkait

Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari lensabanten.co.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.