KOTA TANGERANG, LENSABANTEN.CO.ID– Bagi Ady Irawan (47), salah seorang pekerja pabrik di salah satu kawasan industri Kota Tangerang, sakit bukanlah hal yang pernah ia bayangkan sebelumnya. Ady sehari-hari bekerja untuk menghidupi keluarganya ini mendadak harus menghentikan rutinitasnya setelah didiagnosis menderita penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD).
Melalui tim Jamkesnews, Ady menceritakan pengalamannya menggunakan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) untuk menjalani perawatan intensif selama lima hari di salah satu rumah sakit daerah Kota Tangerang.
Menurutnya, hadirnya program JKN menjadi ketenangan batin bagi dirinya untuk memulihkan kondisi tubuhnya yang drop akibat penyakit tersebut.
“Saya sehari-hari pekerja pabrik, mau gak mau harus selalu sehat agar anak-istri saya terpenuhi kebutuhannya. Ternyata takdir berkata lain, beberapa bulan yang lalu saya terkena penyakit DBD dan harus dirawat. Wah, rasanya campur aduk. Mikirin gimana anak-istri saya tapi kalau saya paksain juga malah berbahaya buat diri saya. Belum lagi mikirin biaya yang dikeluarkan nantinya. Tapi saya beruntung, tempat kerja saya mendaftarkan saya sekeluarga di program JKN. Jadinya, kekhawatiran saya berkurang tentang biaya kesehatan. Alhamdulillah semuanya ditanggung,” ujar Ady pada Selasa 19 Agustus 2025.
Ady mengaku awalnya hanya merasakan gejala ringan seperti demam dan pegal-pegal di badan. Namun semakin lama, kondisi tubuhnya semakin lemah hingga akhirnya keluarga membawanya ke fasilitas kesehatan terdekat.
Dari hasil pemeriksaan dokter, diketahui trombositnya turun drastis dan ia harus segera mendapatkan perawatan di rumah sakit. Mendengar kabar itu, rasa panik sempat menyelimuti keluarga, terutama soal biaya pengobatan yang tentu tidak sedikit.
“Awalnya saya kira hanya demam biasa karena kelelahan kerja. Badan panas dingin, lalu muncul bintik-bintik merah di kulit. Waktu dicek ke puskesmas, dokter bilang harus segera dibawa ke rumah sakit karena kemungkinan besar DBD. Jujur, seperti yang saya bilang sebelumnya, saya langsung khawatir tentang biaya rawat inap apalagi katanya bisa sampai beberapa hari. Tapi lagi-lagi saya bersyukur karena terdaftar sebagai peserta JKN, semuanya dijamin dan saya bisa fokus pemulihan saja,” tutur Ady.
Selama lima hari perawatan, Ady mendapatkan pelayanan medis yang cukup intensif mulai dari pemeriksaan laboratorium, pemberian cairan infus, hingga pengawasan ketat dari dokter dan perawat.
Ia merasa lega karena seluruh biaya perawatan ditanggung melalui Program JKN. Menurutnya, tanpa program ini, tentu akan sangat berat menanggung beban biaya rumah sakit, mengingat penghasilan sebagai pekerja pabrik harus banyak dialokasikan untuk kebutuhan sehari-hari keluarga.
“Kalau dipikir-pikir, biaya rawat inap di rumah sakit itu besar sekali, apalagi kemarin dapat pemeriksaan laboratorium, infus juga diganti beberapa kali, belum lagi sempat trombositnya sangat turun jadi butuh pemantauan khusus. Dengan penghasilan saya yang hanya sebagai pekerja pabrik, jelas tidak akan sanggup membayarnya sendiri. Saya benar-benar merasakan manfaat program JKN ini, ternyata potongan gaji satu persen tiap bulannya kini terasa manfaatnya. Memang kadang kita baru menyadari hal kecil seperti memiliki jaminan kesehatan pada saat kita sakit. Padahal memiliki jaminan kesehatan seharusnya menjadi kewajiban bersama, mumpung pemerintah juga sudah menghadirkan programnya,” jelasnya.
Bagi Ady, pengalaman sakit DBD ini menjadi pelajaran berharga bahwa kesehatan tidak boleh dianggap remeh. Lebih dari itu, ia juga semakin menyadari betapa pentingnya memiliki perlindungan kesehatan melalui program JKN.
Dengan adanya jaminan ini, keluarga merasa lebih tenang dan bisa mendukung proses penyembuhan tanpa dihantui masalah biaya. Menutup ceritanya, Ady mengajak masyarakat untuk tidak ragu menggunakan haknya sebagai peserta, karena program ini memang hadir untuk meringankan beban masyarakat ketika menghadapi masalah kesehatan.
“Alhamdulillah, sekarang kondisi saya sudah jauh lebih baik dan bisa kembali beraktivitas. Terima kasih untuk seluruh tenaga medis yang sudah merawat saya dengan tulus dan program JKN yang sudah melindungi saya dan keluarga. Sekarang saya percaya, lebih baik mencegah daripada mengobati. Oleh karena itu, saya berharap semoga semakin banyak masyarakat yang sadar untuk ikut serta dalam program JKN ini. Programnya sudah ada, tinggal bagaimana kita sebagai masyarakat Indonesia memanfaatkannya dengan baik. Menurut saya, sehat itu mahal dan program JKN membuat semua terasa lebih ringan,” pungkas Ady.
Penulis : Rls
Editor : Eky F









