LENSABANTEN.CO.ID — Di era modern yang serba cepat, tren healing, solo traveling, atau sekadar melarikan diri ke kedai kopi sepi di akhir pekan telah menjadi pelampiasan massal bagi banyak orang.
Fenomena kabur dari rutinitas (eskapisme) ini muncul sebagai reaksi alami terhadap kejenuhan akut (burnout). Kita sering kali merasa lelah akibat hantaman ekspektasi lingkungan, tekanan karier, serta tuntutan untuk selalu terlihat bahagia dan estetik di media sosial.
Kita hidup dalam kecemasan yang terus-menerus, di mana setiap individu secara sadar atau tidak sedang berburu pintu darurat untuk keluar dari rutinitas yang mencekik. Namun, jauh sebelum istilah healing diadopsi sebagai gaya hidup anak muda zaman sekarang, sastrawan legendaris Nh. Dini telah mengulas fenomena pelarian jiwa ini secara mendalam lewat mahakaryanya.
Pada Sebuah Kapal (1973). Novel klasik ini tidak sekadar menyajikan cerita cinta terlarang, melainkan sebuah gambaran psikologis tentang bagaimana manusia berusaha keras melepaskan diri dari belenggu aturan sosial di daratan yang mengekang kebebasan mereka.
Melalui sudut pandang modern, Nh. Dini sebenarnya mengeksplorasi kedalaman psikologi ruang secara brilian dengan membagi dunia menjadi dua kutub, yaitu daratan dan lautan. Dalam cerita ini, “daratan” bertindak sebagai simbol dari “penjara sosial” sebuah ruang penuh kepalsuan dan aturan yang menindas kebahagiaan manusia.
Bagi Sri, daratan adalah tempat pernikahan toksik tanpa cinta bersama Charles, seorang diplomat Prancis yang egois, serta jerat adat yang membatasi ruang geraknya sebagai perempuan mandiri. Sementara bagi Michel, daratan adalah representasi dari pernikahan dingin yang mati rasa dan formalitas hidup yang melelahkan.
Ketika keduanya melangkah naik ke atas kapal laut yang membelah samudra luas menuju Eropa, “daratan” beserta seluruh mata masyarakat yang menghakimi perlahan lenyap di balik cakrawala.
Di atas dek kapal itulah, Nh. Dini secara jenius menciptakan sebuah ruang bebas yang melepas semua beban, di mana status, reputasi, dan tuntutan rumah tangga tidak lagi memiliki kuasa untuk mengatur hidup mereka.
Kapal laut tersebut akhirnya berubah menjadi tempat pemulihan jiwa, di mana waktu terasa melambat dan jarak yang sempit justru memaksa Sri dan Michel untuk menanggalkan topeng kepura-puraan mereka. Keterbatasan ruang fisik di atas kapal justru membuka kedekatan emosional yang tak terbatas, memicu terjadinya obrolan mendalam (deep talk) yang jujur dan intim di bawah taburan bintang samudra.
Hubungan yang terjalin antara Sri dan Michel tidak dimulai dari nafsu sesaat, melainkan dari kedekatan dua jiwa yang sama-sama terluka dan lelah bersandiwara demi memuaskan ekspektasi orang lain. Lewat ikatan yang tumbuh secara alami ini, Nh. Dini melayangkan refleksi kuat yang menampar masyarakat abad ke-21. Novel ini menggugat esensi pelarian kita hari ini.
Apakah ritual healing benar-benar sebuah proses untuk mencari jati diri yang jujur’ataukah kita hanya sekadar memindahkan kepalsuan dan kepenatan mental kita ke latar belakang foto yang berbeda demi mendapatkan pujian baru?
Pada akhirnya, Pada Sebuah Kapal memberikan sudut pandang yang sangat segar, berani, dan relevan dengan isu kesehatan mental generasi modern. Nh. Dini tidak sedang membenarkan pengkhianatan terhadap komitmen pernikahan, melainkan memperlihatkan batas terjauh manusia saat kewarasannya dipertaruhkan di hadapan tuntutan sosial yang tidak manusiawi.
Keinginan untuk sejenak menjauh dari kebisingan dunia, mematikan seluruh penilaian publik, dan mencari ruang tenang bukanlah sebuah dosa, melainkan mekanisme pertahanan diri yang sangat alami agar jiwa kita tidak hancur. Melalui akhir kisah Sri dan Michel, kita diingatkan bahwa healing sejati membutuhkan keberanian besar untuk jujur pada diri sendiri.
Pelarian tidak akan pernah menyembuhkan luka apa pun jika kita tidak berani menghadapi kenyataan, dan berani bertanya pada diri sendiri mengenai siapa kita sebenarnya saat seluruh dunia sedang tidak melihat.
Menenggelamkan Kepalsuan, Menjemput Kewarasan
Membaca kembali mahakarya Nh. Dini ini di tengah riuhnya abad ke-21 seolah menyadarkan kita bahwa eskapisme sejati bukanlah tentang seberapa jauh kita pergi, melainkan seberapa berani kita melucuti ego saat berada di tempat asing tersebut.
Kita tidak perlu benar-benar membeli tiket kapal pesiar atau memesan penerbangan mahal ke ujung dunia demi menemukan ketenangan.
“Kapal” yang diciptakan Nh. Dini sesungguhnya adalah ruang batin di dalam diri kita masing-masing sebuah ruang sunyi yang bersih dari ekspektasi orang lain, di mana kita diizinkan untuk bernapas tanpa kepura-puraan.
Sebelum kita kembali melangkah ke daratan dan menghadapi bisingnya kehidupan sosial, novel ini memberikan pesan berharga yang melampaui zaman: bahwa satu-satunya cara untuk menyembuhkan jiwa yang lelah adalah dengan berani menenggelamkan semua ekspektasi palsu, lalu mendengarkan apa yang benar-benar diinginkan oleh hati kecil kita sendiri.
Ditulis oleh : Indah Wahyuningtyas, Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia , Kelahiran 2 juni 2005,pencinta novel baik fiksi maupun horror,Mbti ISTP










