LENSABANTEN.CO.ID – Hidup Dimas (16) berubah drastis sejak kedua orang tuanya bercerai. Dari seorang pelajar biasa, ia kini harus menanggung kerasnya hidup sendirian—bahkan sempat menjadi tunawisma dan tidur di emperan toko.
Setelah perceraian itu, baik sang ayah maupun ibu memilih membangun rumah tangga baru. Namun, tak satu pun yang bersedia mengajak Dimas ikut serta. “Sempat tinggal dengan ayah, tapi diusir,” kisahnya lirih.
Harapan sempat tumbuh ketika ia mendatangi ibunya, namun jawaban yang diterima justru lebih menyakitkan. Ibunya menolak, dan keluarga dari pihak ibu pun enggan memberi tempat. Dimas akhirnya hidup berpindah-pindah, kadang tidur di teras toko, kadang di masjid, berjuang melawan lapar dan dingin malam.
Sekolah pun harus ia tinggalkan sejak duduk di kelas 2 SMP. Bukan karena malas, tapi karena tidak ada biaya. “Pendidikan saya tunda dulu. Yang penting bisa makan,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Bertahan Hidup dari Jualan Ikan Cupang
Hidup Dimas mulai sedikit berubah ketika ada orang baik hati yang memberinya izin menumpang di kamar kos kecil ukuran 2×3 meter. Biayanya hanya Rp100.000 per bulan, tapi Dimas kerap menunggak dua bulan karena belum mampu membayar. Meski begitu, sang pemilik kos tak pernah mengusirnya.

Tidak ingin bergantung pada belas kasihan, Dimas mencari nafkah sendiri. Ia menjual ikan cupang milik orang lain dengan sistem bagi hasil. Setiap ekor ikan yang laku Rp5.000, ia mendapat upah Rp2.000.
Kadang hanya satu ekor yang terjual, kadang bisa sepuluh. Tapi kalau ada ikan yang mati, Dimas harus menggantinya dengan uang pribadi—padahal sekadar makan pun sering kali sulit.
“Kalau laku sedikit, ya alhamdulillah. Kadang cuma bisa makan sekali,” ujarnya.
Mimpi yang Masih Hidup di Tengah Derita
Meski kerasnya hidup telah mengujinya di usia muda, Dimas masih menyimpan harapan besar. Ia ingin kembali bersekolah, mengejar cita-cita menjadi seorang tentara.
“Kalau saya bisa sekolah lagi, saya ingin jadi tentara. Biar bisa bantu orang lain,” katanya penuh keyakinan.
Kisah Dimas bukan sekadar potret getir seorang remaja yang ditelantarkan, melainkan juga cermin betapa kuatnya tekad dan ketulusan dalam bertahan hidup. Tuhan, tampaknya, sedang menulis kisah besar untuk anak muda tangguh ini.








