TANGERANG, LENSABANTEN.CO.ID – Penyebaran Demam Berdarah Dengue (DBD) kembali terjadi di wilayah RT 02/06, Kelurahan Batusari, Kota Tangerang. Sedikitnya lima warga dilaporkan terjangkit penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Dari jumlah tersebut, tiga orang telah dinyatakan sembuh, sementara dua warga lainnya masih menjalani perawatan di Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta Pusat.
Menanggapi kondisi tersebut, pihak Puskesmas Batusari bersama perangkat kelurahan melakukan peninjauan langsung ke lokasi pada Selasa, 6 Januari 2026. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari langkah Penyelidikan Epidemiologi (PE) untuk menelusuri potensi penyebaran DBD di lingkungan warga.
Bahrul Hikam, Ketua Pemuda Progresif Batusari, menyampaikan keprihatinannya atas meningkatnya kasus DBD di wilayah tersebut. Ia menyebut kondisi yang terjadi seharusnya dapat dicegah apabila langkah antisipasi dilakukan sejak awal, terutama di tingkat lingkungan.
“Di wilayah RT 02/06 ini ada lima warga yang terkena DBD. Alhamdulillah tiga sudah sembuh, tapi sampai hari ini masih ada dua orang yang dirawat di rumah sakit. Ini tentu jadi keprihatinan bersama,” ujar Bahrul.
Menurut Bahrul, sejak memasuki musim hujan dengan intensitas tinggi, kegiatan kerja bakti dan pembersihan lingkungan seharusnya dilakukan secara rutin untuk mencegah genangan air yang berpotensi menjadi sarang nyamuk DBD.
BACA JUGA : Perluas Akses Air Bersih, Pemkot Tambah 30 Ribu Sambungan
“Dalam kondisi musim hujan seperti ini, kerja bakti dan pembersihan lingkungan itu sangat penting. Itu langkah dasar untuk memutus rantai penyebaran DBD,” katanya.
Ia juga menyoroti lemahnya upaya pencegahan di tingkat RT dan RW. Bahrul menilai tidak adanya kegiatan pencegahan berdampak langsung pada meningkatnya jumlah warga yang terjangkit, bahkan sebagian harus menjalani perawatan intensif.
“Faktanya, tidak ada kegiatan pencegahan yang dijalankan oleh RT dan RW. Akhirnya warga yang terdampak dan harus dirawat di rumah sakit,” ungkapnya.
Melihat kondisi tersebut, Bahrul bersama rekan-rekan pemuda setempat mengambil inisiatif melaporkan situasi yang terjadi kepada pihak kelurahan pada Senin, 5 Januari 2026.
“Kami sebagai pemuda tidak bisa diam. Kami langsung melapor ke lurah dan jajarannya supaya masalah ini bisa segera ditangani dan dikoordinasikan sampai ke RT dan RW,” tegasnya.
Menindaklanjuti laporan tersebut, pihak kelurahan bersama Puskesmas Batusari melakukan peninjauan lapangan. Namun Bahrul kembali menyoroti kurangnya pendampingan dari RT dan RW saat kegiatan berlangsung.
“Saat peninjauan dari kelurahan dan puskesmas, RT dan RW tidak hadir. Tidak ada pendampingan sama sekali, sehingga koordinasi di lapangan tidak berjalan optimal,” ujarnya.
Sementara itu, Penanggung Jawab Program PTPZ DBD, Puskesmas Batusari, Adiyaksa, menjelaskan bahwa penanganan kasus DBD dilakukan berdasarkan laporan resmi dari rumah sakit dan hasil pemantauan kader Juru Pemantau Jentik (Jumantik).
“Setelah laporan kasus DBD masuk dari rumah sakit, kami langsung melakukan Penyelidikan Epidemiologi ke lapangan, memeriksa jentik, dilanjutkan dengan kerja bakti, penyuluhan, dan fogging bila diperlukan,” jelas Adiyaksa.
Ia menambahkan, di wilayah kerja Puskesmas Batusari terdapat 16 kader Jumantik sesuai jumlah Posyandu. Selain itu, pada tahun 2026 pihaknya mulai menjalankan program Jumantik Sekolah yang melibatkan Dokter Kecil, Penanggung Jawab UKS, dan Kesehatan Remaja.
Adiyaksa menyebut peningkatan kasus DBD umumnya terjadi pada bulan Juni, Juli, dan November 2025, seiring meningkatnya curah hujan. Pihak puskesmas pun mengimbau masyarakat untuk aktif melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) melalui gerakan 3M Plus.










