KOTA TANGERANG, LENSABANTEN. CO. ID –Lembaga Sensor Film (LSF) RI mengajak ribuan pelajar bersikap kritis dalam memilih tontonan, terutama konten di media sosial yang sulit dikendalikan pemerintah. Ajakan itu disampaikan dalam kegiatan pengabdian masyarakat bertema “Memajukan Budaya Menonton Sesuai Usia” di Komplek Perguruan Muhammadiyah Cipondoh, Kota Tangerang, Banten, Jumat 6 November 2026.
Kegiatan yang diinisiasi mahasiswa Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA) Jakarta itu diikuti sekitar 1.600 murid SMP, SMA, dan SMK. Acara berlangsung di halaman sekolah dengan menghadirkan narasumber dari LSF RI.
Ketua Komisi II LSF RI Ervan Ismail mengatakan, kegiatan tersebut bertujuan mengenalkan sejarah dan kiprah LSF, sekaligus mendorong tumbuhnya budaya sensor mandiri, yakni kemampuan masyarakat memilah tontonan sesuai usia.
“Kami berharap mereka paling tidak mampu membedakan film mana yang kategori usianya sesuai dengan mereka,” kata Ervan seusai kegiatan.
Menurut dia, tantangan saat ini tidak lagi terbatas pada televisi dan bioskop. Konten di internet, terutama media sosial, beredar luas dan bisa ditonton siapa saja karena pemerintah memiliki keterbatasan dalam mengatur karya para kreator konten.
Ervan menyebut pornografi dan sadisme sebagai risiko utama bagi remaja. Konten sadis dapat menimbulkan trauma, sedangkan pornografi dikhawatirkan membuat seksualitas dianggap lazim dilakukan siapa saja, kapan saja, dan pada usia berapa pun.
“Ini tentunya akan mengganggu masa depan mereka,” ujarnya.
Ia menambahkan, persoalan tersebut juga menyangkut ketahanan keluarga dan nilai budaya yang menjunjung adab, agama, serta norma sosial.
Ervan menekankan pentingnya kesadaran bahwa pembuat film pada dasarnya ingin karyanya ditonton banyak orang. Dengan memahami hal itu, pelajar diharapkan dapat menimbang untuk siapa sebuah tontonan dibuat dan apa tujuannya.
Jika konten yang tidak sesuai tiba-tiba muncul di ponsel, siswa bisa melewatinya dan memilih tayangan yang bermanfaat, seperti film biografi yang menginspirasi atau film keluarga yang menumbuhkan nilai kekeluargaan.

Gerakan perdana
Sekretaris Pimpinan Cabang Muhammadiyah Edi Yanto menjelaskan, kegiatan ini diinisiasi para dosen dan sejumlah instansi dalam Gerakan Nasional Budaya Sensor Mandiri. Rangkaian acara juga memuat nonton dan ngobrol bareng film Fatima.
Menurut Edi, edukasi tontonan penting diberikan kepada siswa di kompleks Perguruan Muhamadiyah Cipondoh, yang terdiri atas SMP Muhammadiyah 4, SMA Muhammadiyah 2, dan SMK Muhammadiyah 1.
“Harapannya, anak-anak paham betul bagaimana menonton film dan menggunakan media sosial, sehingga terhindar dari dampak negatif,” kata Edi.
Dukungan sekolah
Kepala SMP Muhammadiyah 4 Tangerang (Cipondoh) Rahmat mengatakan, pihaknya mendukung penuh kegiatan yang merupakan bagian dari program “LSF Goes to School” tersebut.
Program itu menyasar sekolah-sekolah di berbagai daerah untuk mengedukasi pelajar dalam menonton dan membuat film yang layak bagi remaja.
“Harapan kita, mereka paran siswa mendapat pencerahan tentang apa yang layak dan tidak layak ditonton,” kata Rahmat.
Menurut dia, siswa juga berkesempatan berinteraksi dengan artis, termasuk penyanyi, serta pihak rumah produksi.
“Interaksi itu diharapkan membuka wawasan agar kelak siswa tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga menjadi insan kreatif sesuai minat bakat mereka.”
Di luar kegiatan tersebut, kata Rahmat, sekolah rutin menanamkan kemampuan memilah hal baik dan buruk melalui pendidikan akhlak, seperti salat duha, hafalan Al-Quran, dan salat berjamaah.
Sekolah juga memberi ruang bagi minat dan bakat siswa. Siswa yang memiliki kegiatan di luar sekolah boleh masuk lebih siang selama ada surat resmi, dukungan orang tua, dan pertanggungjawaban akademik.
“Sejumlah siswa tercatat menjadi duta baca serta juara nasional lomba News in English dan Al-Quran, ” Ungkapnya.









