Jadi Peserta JKN, Eti Tak Pernah Khawatrkan Biaya Pengobatan

Jadi Peserta JKN, Eti Tak Pernah Khawatrkan Biaya Pengobatan
Eti Ratnawati (37), warga di Kota Tangerang, awalnya dirinya tak menyangka bahwa kehamilannya memiliki masalah. Ia baru sadar setelah mendekati waktu bersalin, tekanan darahnya semakin tinggi. foto Dok BPJS

KOTA TANGERANG, LENSABANTEN.CO.ID – Tidak semua wanita menjalani masa kehamilan dengan lancar. Beberapa dari ibu yang hamil mengalami tekanan darah tinggi dan apabila tidak ditangani secara tepat maka bisa berakibat kurang baik terhadap ibu dan janin yang di kandungnya.

Eti Ratnawati (37), warga di Kota Tangerang, awalnya dirinya tak menyangka bahwa kehamilannya memiliki masalah. Ia baru sadar setelah mendekati waktu bersalin, tekanan darahnya semakin tinggi.

Bacaan Lainnya

“Pada awal kehamilan memang tidak ada keluhan, semua baik-baik saja. Namun pada saat bulan ke sembilan kehamilan kami baru tahu kalau terjadi komplikasi pada kehamilan saya. Saat itu saya mengalami tekanan darah tinggi (hipertensi) selama kehamilan. Kata dokter istilahnya Preeklamsia. Saat divonis mengalami Preeklamsia perasaan saya bingung, pikiran berkecamuk, lalu stres mulai muncul, takut juga kalau harus operasi,”kenang Eti, Selasa, 16 Juli 2024.

Mengingat kondisi Eti yang mengkhawatirkan, dokter menyarankan untuk segera melahirkan sang buah hati dan harus dilakukan tindakan operasi Caesar.

Operasi harus segera dilakukan untuk menyelamatkan Eti dan bayi yang ada dalam kandungannya. Kondisi ini memberikan banyak kekhawatiran untuk Eti dan keluarga, mulai dari kondisinya sang buah hati hingga biaya operasi.

Tentu biaya persalinannya akan memakan biaya yang besar. Beruntung dirinya sudah menjadi peserta JKN dari tempat kerja sang suami.

“Beruntung saya sudah memiliki kartu JKN sehingga biaya operasi untuk kelahiran buah hati kami sudah bisa tertanggung tanpa mengeluarkan uang sepeserpun. Jadi tinggal menyiapkan mental untuk menghadapi operasinya saja. Peran serta BPJS Kesehatan dalam proses persalinan anak saya sungguh luar biasa. Saya merasa lega bukan main karena seluruh biaya pengobatan sampai dengan kelahiran anak saya semua ditanggung oleh BPJS Kesehatan,” tutur Eti.

Ujian yang Eti alami tak sampai disitu saja. Kala itu adalah kelahiran anak keduanya. Kini sang buah hati telah tumbuh menjadi anak yang sehat. Berbeda dengan sang anak, sejak persalinannya pada tahun 2017 itu kondisi Eti tak lagi sebaik dahulu.

Preeklamsia yang dideritanya menyebabkan kerusakan pada ginjal Eti dan mengharuskannya rutin cuci darah. Namun, lagi-lagi ia mengucap syukur, berkat program JKN Eti bisa menjalani pengobatan rutin dengan baik.

“Saya dan suami tentu sangat senang anak kami bisa lahir dan tumbuh dengan sehat. Tetapi saat itu kami juga dihadapkan dengan kenyataan kalau saya mengalami gagal ginjal. Saat itu saya benar-benar terpukul. Saya harus bagaimana, kedua anak saya masih sangat kecil. Sebagai seorang ibu, saya harus bangkit. Kalau bukan saya, siapa lagi yang akan mengurus keluarga saya. Sejak saat itu saya rutin cuci darah, dua kali dalam seminggu,” katanya.

Dari awal pelayanan cuci darah, ia merasakan sikap para petugas rumah sakit sangatlah ramah dan telaten melayani, tidak ada kesulitan administrasi.

Selama menjalani pengobatan seringkali Eti harus berobat sendiri, karena sang suami harus bekerja, namun tidak pernah ia merasa kesepian. Para petugas seringkali datang menghiburnya. Hal tersebut menjadi pendorong semangat Eti juga pasien-pasien lainnya untuk selalu tabah dan semangat  menjalani prosedur medis yang yang dijalaninya.

“Sejauh ini kesan BPJS Kesehatan sangatlah berbekas dengan baik di hati saya. Rasanya dengan iuran yang dibayarkan dalam harga terjangkau, tetapi manfaat dan kegunaan yang diberikan kepada para penggunanya sangatlah luar biasa. Bahkan di fasilitas kesehatan pun saya mendapatkan pelayanan yang sangat baik dan sistemnya sungguhlah canggih. Tenaga kesehatan di Rumah Sakit Melati tempat saya dirawat pun sangat ramah. Mereka memberikan kekuatan untuk kami salama menjalani cuci darah,” papar Ibu anak dua itu.

Menutup ceritanya, Eti menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang sudah ikut terlibat menjalankan program JKN, sehingga dirinya bisa menjalani cuci darah tanpa kendala.

Kedepannya, Eti berharap Program JKN akan semakin baik dan terus meningkatkan kemudahan akses dan pendaftaran layanan, terutama melalui pemanfaatan teknologi digital.

Dengan demikian, BPJS Kesehatan dapat terus berkembang lebih pesat dari yang sudah dilakukan dan memberikan layanan terbaik bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Pos terkait

Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari lensabanten.co.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.