Keramas Bareng RW 02 Babakan, Tradisi Dua Dekade Sambut Ramadan

TANGERANG, LENSABANTEN.CO.ID – Warga RW 02 Kelurahan Babakan, Kecamatan Tangerang, Kota Tangerang, kembali menggelar tradisi Keramas Bareng menjelang Ramadan 1447 Hijriah. Kegiatan yang dipusatkan di bantaran Sungai Cisadane ini telah berlangsung sejak 2005 dan kini memasuki tahun ke-20.

Ketua RW 02 Babakan, Cucu Sudrajat, mengatakan tradisi tersebut menjadi agenda rutin warga setiap menjelang bulan suci. Ia menyebut kegiatan ini lahir dari kebiasaan masyarakat yang terpusat di musala tepi sungai.

Bacaan Lainnya

“Keramas bareng ini sudah kami lakukan sejak sekitar tahun 2005 dan sekarang masuk tahun ke-20. Tradisi ini memang kami jalankan setiap menjelang Ramadan sebagai bentuk persiapan menyambut bulan suci,” kata Cucu.

Menurutnya, keberadaan Musala Al-Ijtihad yang berada di samping sungai menjadi awal mula tradisi tersebut. Aktivitas warga yang terpusat di lokasi itu kemudian berkembang menjadi kebiasaan turun-temurun.

“Dulu kegiatan warga terpusat di Musala Al-Ijtihad yang posisinya tepat di samping Kali Cisadane. Dari situ muncul kebiasaan keramas bersama yang akhirnya terus dilestarikan sampai sekarang,” ujarnya pada Selasa, 17 Februari 2026.

Ia menegaskan, tradisi ini erat dengan makna penyucian diri sebelum menjalankan ibadah puasa. Keramas bareng dipandang sebagai simbol kesiapan lahir dan batin menyambut Ramadan.

“Tradisi ini sangat erat kaitannya dengan menyambut bulan suci Ramadan. Intinya kami ingin membersihkan diri secara simbolis sebelum menjalankan ibadah puasa,” ucapnya.

Cucu menambahkan, jumlah peserta setiap tahun diperkirakan mencapai sekitar 500 orang. Tradisi ini juga telah diajukan menjadi cagar budaya tak benda.

“Setiap tahun kurang lebih sekitar 500 orang ikut serta, bukan hanya warga RW 02. Bahkan tradisi ini sudah kami ajukan ke Dinas Budaya dan Pariwisata untuk dijadikan cagar budaya tak benda,” katanya.

Untuk mengantisipasi risiko, pihak RW berkoordinasi dengan sejumlah instansi terkait. Pengamanan dilakukan karena kegiatan berlangsung di sungai dan melibatkan banyak warga.

“Kami berkoordinasi dengan Tagana, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Budaya dan Pariwisata, serta aparat lainnya. Bahkan ada tim SAR yang siaga untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan,” jelasnya.

Kepala Bidang Kebudayaan pada Dinas Budaya dan Pariwisata Kota Tangerang, Supendi, menyebut tradisi ini telah berlangsung puluhan tahun di wilayah Kecamatan Tangerang. Ia menilai keramas bareng sebagai bagian dari warisan budaya masyarakat bantaran Cisadane.

“Tradisi ini sudah puluhan tahun dilaksanakan di bantaran Kali Cisadane dan terus digalakkan masyarakat. Ini termasuk cagar budaya tak benda yang tetap hidup dan tidak pernah kehilangan peminat,” ujar Supendi.

Menurutnya, tradisi tersebut bukan sekadar aktivitas mandi bersama, melainkan juga ajang silaturahmi warga. Momentum ini menjadi ruang untuk saling memaafkan sebelum Ramadan.

“Selain sebagai simbol mensucikan diri menjelang Ramadan, kegiatan ini juga jadi ajang silaturahmi. Di sini warga saling memaafkan dan mempererat kebersamaan sebelum memasuki bulan suci,” katanya.

Supendi menambahkan, tradisi ini menjadi salah satu identitas budaya Kota Tangerang. Ia memastikan akan mendorong pengusulan sebagai cagar budaya tak benda.

“Ini salah satu nilai kebudayaan yang akan kami ajukan sebagai cagar budaya tak benda. Pesertanya bukan hanya warga Babakan, tapi juga dari wilayah lain di Kecamatan Tangerang,” ucapnya.

Terkait isu pencemaran sungai yang sempat terjadi, ia memastikan kondisi sudah ditangani. Ia menyebut hasil penelitian tidak menemukan dampak negatif bagi warga.

“Pencemaran kemarin sudah lewat dan masyarakat tetap percaya Cisadane adalah sumber kehidupan. Dari penelitian PDAM dan Polres juga tidak ada dampak negatif, hanya ikan yang memang tidak boleh dikonsumsi,” jelasnya.

Sementara itu, warga Babakan yang ikut keramas, Gery, mengaku bersyukur melihat antusiasme masyarakat tetap tinggi. Ia menyebut kegiatan ini sudah berjalan sejak lama dan selalu dinanti.

“Alhamdulillah warga masih antusias dengan acara yang setiap tahun kami selenggarakan. Tradisi ini sudah berjalan lama, bahkan sejak tahun 90-an sudah mulai dilakukan,” ujarnya.

Ia juga menilai pemerintah cepat merespons isu pencemaran air menjelang Ramadan. Menurutnya, koordinasi dengan dinas terkait membuat warga merasa lebih tenang.

“Kami sudah komunikasi dengan dinas terkait soal kondisi air dan alhamdulillah pemerintah cepat tanggap. Informasi terakhir yang kami terima, air sudah dinyatakan aman dan steril,” katanya.

Ke depan, ia berharap kekompakan warga dan pemuda tetap terjaga agar tradisi ini terus berlangsung. Keramas bareng dinilai bukan sekadar budaya, tetapi juga simbol solidaritas masyarakat bantaran Cisadane.

“Kami berharap Karang Taruna dan warga tetap kompak dan makin solid ke depannya. Intinya tradisi ini bisa terus berjalan dan semakin banyak disukai masyarakat,” tutupnya. Foto: Dony- Lensabanten

Pos terkait

Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari lensabanten.co.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.