Tradisi dan Otoritas Keilmuan dalam Islam

Tradisi dan Otoritas Keilmuan dalam Islam
Thobib Al-Asyhar (Dosen Psikologi Islam SKSG Universitas Indonesia, Direktur GTK Madrasah, Kemenag RI)

Jumat (21/3/2025) sore, saya betul-betul menyimak isi ceramah KH. Zulfa Mustafa, Wakil Ketum PBNU pada acara Peningkatan Kompetensi Direktorat GTK Madrasah. Materinya sangat menarik, yaitu tentang otoritas keilmuan Imam Malik, salah seorang imam Madzhab empat yang sangat alim. Selain gaya ceramahnya yang enak ala tradisi NU, tema yang disajikan pun membuka mata bagi para pendengarnya.

Diceritakan, bahwa tradisi keilmuan dalam Islam memiliki tempat yang sangat tinggi. Para ulama dihormati bukan hanya karena kepandaian mereka, tetapi juga karena keteguhan dalam menjaga ilmu dan kesalehan yang luar biasa. Salah satu contoh terbaik adalah Imam Malik bin Anas, salah satu ulama Madzhab Empat yang sangat disegani karena ketinggian ilmu dan akhlaknya.

Bacaan Lainnya

Ketika Khalifah Harun Al-Rasyid (Abbasiyyah) memanggilnya ke istana untuk mengajar dengan maksud mendapatkan privilege sebagai penguasa saat itu, Imam Malik menolak dengan tegas. Ia mengatakan bahwa ilmu itu harus didatangi, bukan mendatangi (al-ilmu yu’ta wala ya’ti). Sebuah sikap seorang ulama yang sangat berwibawa.

Bahkan saat sang khalifah bersedia hadir di majelisnya, Imam Malik tidak memberikan perlakuan istimewa sekalipun. Ia meminta muridnya untuk membacakan hadis, sementara ia sendiri tetap diam. Imam Malik ingin menunjukkan bahwa ilmu bukan alat politik atau kepentingan pribadi. Ilmu harus dihormati dan dijaga dengan jujur. Imam Malik adalah contoh keteguhan ulama dan tingginya otoritas keilmuannya.

Satu aspek penting yang perlu menjadi catatan, bahwa para ilmuwan Muslim masa lalu tidak memisahkan ilmu dari iman. Mereka meneliti alam bukan hanya untuk memahami dunia, tetapi juga untuk menemukan tanda-tanda kebesaran Allah. Muhammad Iqbal misalnya pernah berkata bahwa mempelajari alam berarti mempelajari cara kerja Tuhan. Dengan begitu, ilmu tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga memperkuat keimanan.

Selain dorongan agama, ilmu berkembang karena masyarakat menghargai para ilmuwan. Sejarah panjang Islam telah mencatat bagaimana ulama besar seperti Imam al-Razi disambut dengan luar biasa ketika datang ke Herat (Afghanistan). Penduduk kota menyambutnya layaknya hari raya. Pemerintah menyiapkan istana khusus untuknya. Masjid penuh sesak saat ia mengajar.

Di Baghdad, debat ilmiah sering diadakan di tempat umum. Masyarakat datang untuk menyaksikan para teolog dan filosof berdiskusi. Bahkan para penguasa adalah orang pertama yang mendukung ilmu pengetahuan. Mereka menjadikan istana sebagai pusat pembelajaran. Tidak sedikit para sultan atau khalifah yang berlomba-lomba membangun perpustakaan megah dengan koleksi buku yang berlimpah, bukan menumpuk harta hasil korupsi.

Namun, semangat keilmuan itu kini mulai pudar. Banyak ulama atau ilmuan modern justru kalah dari godaan dunia. Ada istilah yang bersifat kritikal, “banyak orang pinter tapi keblinger”. Mereka belajar ilmu tujuannya justru untuk dunia. Demikian juga masyarakat kurang atau tidak menghargai ilmuan atau ulama. Dalam tradisi ilmiah Islam, orang yang ketemu ulama hanya ingin mendengar langsung ilmunya, seperti hadits yang diriwayatkan. Demikian juga mereka berharap mendapatkan keberkahan ilmu dan akhlak mulia ulama.

Lalu apa yang terjadi saat ini? Banyak orang berebutan ingin ketemu ulama atau ilmuan terkemuka hanya ingin mengajak selfie (berfoto), lalu dipasang di status media sosialnya. Dan yang membuat prihatin lagi, ulama atau ilmuan sendiri juga mau dan ingin difoto bersama dengan para penggemarnya. Belum lagi para ulama atau kyai banyak dikunjungi politisi hanya untuk kepentingan politik. Setelahnya ditinggalkan, dan itu terjadi terus berulang. Sebuah fenomena yang sangat kontras dengan tradisi keilmuan Islam masa lalu.

Padahal, ilmu adalah kunci kemajuan. Jika ingin bangkit, kita harus menghargai ilmu dan ilmuwan itu sendiri dengan otoritas dan harga diri yang tinggi, khususnya para ulama. Karenanya, pemerintah seyogyanya memberikan porsi yang cukup untuk mendukung pendidikan dan penelitian. Bantuan-bantuan riset perlu diperbanyak. Majelis-majelis ilmu perlu dibuka seluas-luasnya. Demikian juga masyarakat harus mencintai ilmu, bukan hanya untuk keuntungan dunia, tetapi juga sebagai bentuk ibadah.

Sejarah mencatat, selain terhadap ilmuan dan ilmu itu sendiri, apresiasi para penguasa Islam masa lalu juga sangat luar biasa yang bisa dilihat dari harga yang diberikan kepada karya-karya ilmiah terkemuka. Konon buku sejarah Al-Thabari dibeli dengan harga 100 dinar. Sedangkan karya Ibn Durayd di bidang leksikografi Al-Jamhara dibeli dengan harga 60 dinar.

Karya lain yang dihargai amat tinggi adalah Shah-Namah (buku tentang Raja-Raja Persia) karangan Firdausi. Mahmud Al-Ghazna menjanjikannya dengan 60.000 keping emas (dinar), ketika ia menyelesaikannya. Sebuah penghargaan yang tentunya sangat tinggi bagi sebuah karya, yang juga memang sangat bagus (memuat 60.000 syair). Sementara itu karya Ibn Sina, al-Syifa’ dibeli oleh Muhammad Tughluq, Sultan Delhi, seharga 200.000 mitsqal emas. (Mulyadhi K, 2006).

Dengan contoh-contoh di atas diharapkan kita bisa mengerti betapa besar apresiasi masyarakat (khususnya para penguasa) Muslim pada saat itu baik terhadap ilmuwannya, ilmunya sendiri dan juga karya-karya ilmiah agung mereka. Saatnya kita membangun tradisi ilmiah yang baru dengan meneladani para ilmuwan Muslim terdahulu. Mereka belajar dengan kesungguhan, bukan sekadar untuk status atau kekayaan. Mereka menuntut ilmu sebagai jalan menuju Allah.

Jika kita ingin melihat kebangkitan Islam, kita harus mulai dari diri sendiri. Mari kita jadikan ilmu sebagai bagian dari gaya hidup (life style), agar dunia dan akhirat lebih baik. Indonesia akan menjadi kiblat keilmuan Islam jika mampu mempelopori ini. Bukan tidak mungkin cahaya kebangkitan Islam akan dimulai dari nusantara ini. Wallahu a’lam.

Thobib Al-Asyhar (Dosen Psikologi Islam SKSG Universitas Indonesia, Direktur GTK Madrasah, Kemenag RI)

Pos terkait

Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari lensabanten.co.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.