KOTA TANGERANG, LENSABANTEN.CO.ID – Seorang bocah laki-laki berusia 3 tahun di Kota Tangerang diduga menjadi korban kekerasan oleh asisten rumah tangga (ART) berinisial M (22). Dugaan kekerasan itu terjadi di rumah kontrakan orangtua korban di Jalan Veteran, Sukasari, Babakan, Kota Tangerang, pada 13 Juli 2026.
Korban mengalami lebam pada bagian wajah, terutama di sekitar kedua mata hingga hidung. Keluarga kemudian melaporkan dugaan kekerasan tersebut ke Polres Metro Tangerang Kota pada 27 Juli 2026 dengan Nomor LP/B/1685/VII/2026/SPKT/Polres Metro Tangerang Kota/Polda Metro Jaya.
Ibu korban berinisial D meminta polisi segera menindaklanjuti laporan tersebut dan memeriksa M. Pasalnya, M disebut telah meninggalkan rumah majikannya dan pergi ke Lampung.
“Kami meminta polisi bergerak cepat mencari dan memeriksa M. Kami ingin kasus ini segera terang, apa sebenarnya yang terjadi pada anak saya,” kata D, saat dikonfirmasi pada Minggu, 16 Juli 2026.
Awalnya Disebut Terjatuh
D menuturkan, dugaan kekerasan tersebut terjadi saat dirinya bersama suaminya sedang menyelesaikan pekerjaan di Bogor, Jawa Barat. Sementara anak mereka berada di rumah dalam pengasuhan M bersama ibu M berinisial A.
Pada 14 Juli 2026 sekitar pukul 07.00 WIB, D menerima panggilan video dari rumah. Dalam sambungan tersebut, kondisi anaknya diperlihatkan kepada keluarga dan disebut mengalami insiden jatuh.
“Pada saat itu kondisi anak saya sudah lebam. Setelah kami pulang, kami menanyakan penyebab luka tersebut dan mendapat penjelasan bahwa anak saya terjatuh,” ungkap D.
Setibanya di rumah, D dan suaminya kemudian melihat kondisi wajah anak mereka secara langsung. Namun, keluarga mulai curiga setelah melihat lebam di sekitar kedua mata hingga bagian hidung korban.
Suami D kemudian menduga luka tersebut bukan akibat terjatuh, melainkan karena adanya kekerasan. Dugaan itu membuat D sebagai ibu semakin khawatir dengan kondisi anaknya.
“Suami saya bilang, kayaknya ini bukan jatuh, tapi kayak dipukul. Namanya juga saya seorang ibu, saya langsung nangis,” tutur D.
Anak Disebut Mengalami Trauma
Setelah kejadian tersebut, D mengatakan kondisi anaknya mengalami perubahan. Bocah tersebut disebut menjadi lebih trauma dan menunjukkan perubahan perilaku.
Keluarga kemudian mendokumentasikan kondisi luka korban melalui foto dan video. D juga berusaha menggali informasi dari anaknya dengan cara yang tidak membuat korban semakin tertekan.
Saat keluarga mengajak korban berlibur untuk membantu menghilangkan rasa trauma, bocah tersebut disebut beberapa kali mengaku dipukul oleh M. Pengakuan itu kemudian direkam oleh D dalam bentuk video.
“Di tempat tenang, anak saya cerita jika dia dipukul oleh pengasuh M. Saya videokan. Keesokan harinya berturut-turut anak saya tetap mengaku dipukul oleh M,” ujar D.
M Disebut Kabur ke Lampung
D menyebut M bersama ibunya telah meninggalkan rumah dan pergi ke Lampung sehari sebelum keluarga membuat laporan polisi. Atas kondisi tersebut, keluarga berharap polisi segera menemukan keberadaan M untuk dimintai keterangan.
“Kami mohon polisi jangan sampai kasus ini berhenti begitu saja. Tolong segera cari keberadaan dan ungkap apa yang sebenarnya terjadi,” kata D.
D juga berharap polisi memeriksa seluruh pihak yang berada di lokasi saat dugaan kejadian berlangsung. Selain itu, keluarga meminta bukti berupa foto dan video turut ditelusuri dalam proses penyelidikan.
Hingga saat ini, D mengaku belum dimintai keterangan oleh pihak kepolisian terkait laporan yang telah dibuat. Ia berharap kasus tersebut dapat segera ditindaklanjuti demi memberikan perlindungan kepada anaknya.
“Kami berharap polisi menangani laporan ini dengan cepat. Anak saya masih kecil dan membutuhkan perlindungan,” pungkas D.








